Wujudkan Indonesia Maju, Gus Muhaimin Urai Tiga Pelajaran Penting

M. Isa | Senin, 03/01/2022 20:22 WIB
Wujudkan Indonesia Maju, Gus Muhaimin Urai Tiga Pelajaran Penting Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar (foto: tangkapan layar facebook DPP PKB)

JAKARTA, RADARBANGSA.COM – Indonesia akan merayakan 100 tahun usianya pada 2045 mendatang. Indonesia telah mencanangkan tonggak menjadi negara maju dengan semua kemajuan dalam setiap aspeknya.

Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa, Abdul Muhaimin Iskandar mengatakan, pengalaman negara maju dari di dunia yang berhasil berusia ratusan tahun dapatlah disarikan dalam tiga pelajaran penting.

Pertama, negara dan seluruh kebijakan lembaga perlu semakin inklusif bermanfaat dan memajukan semua warga. Perbudakan harus dihapuskan, dan perempuan bebas memilih dan terlibat politik.

”Para petani dan nelayan didukung oleh subsidi dan sarana infrastruktur memadai. Orang muda diberi kesempatan penuh untuk mengecap pendidikan, bekerja meraih skill tinggi dan meraih konsep hidup baik mereka,” ujar Gus Muhaimin saat menyampaikan Pidato Awal Tahun bertajuk ”Peta Jalan Indonesia Maju”, Senin (3/1/2022).

Selain itu, sistem pajak dilaksanakan untuk mendanai pendidikan, belanja pegawai dan jaminan sosial kesehatan serta pensiun. ”Jaminan sosial dibuka dan melayani semua warga. Dukungan dana disediakan untuk riset-riset dan pengembangan teknologi. Kota-kota ditata dan sistem pendidikan publik dibentuk didanai oleh negara. Taman-taman publik diadakan, dan lansia dimuliakan dengan berbagai layanan, program dan program perlindungan,” ungkapnya.

Pembelajaran kedua, negara dan kebijakan publik perlu terus-menerus mendukung dan melakukan investasi dan menguasai modal ilmiah dan teknologi agar nilai tambah dan manfaat bisa dinikmati warga, dan mampu membuat rakyatnya mandiri, berusia panjang dan menolong dirinya sendiri.

Gus Muhaimin mencontohkan Korea Selatan yang saat ini mampu menjadi negara produsen baja terbesar dunia, meski tidak memiliki bijih besi dan justru mengimpor dari Indonesia. Lalu ada Belgia, negara kecil di Eropa yang menonjol sebagai produsen coklat terkemuka dunia, meski kakaonya mengimpor dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Swiss negara legendaris produsen kopi dunia, dan menentukan harga kopi dunia, meski tidak memiliki kebun kopi. Kebun kopinya ada di Indonesia,” ungkap Gus Muhaimin.

Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra itu mengatakan, selama ini, bangsa ini kurang mengembangkan teknologi dan modal ilmiah sehingga nilai tambah produk-produk pertanian diambil orang lain. ”Jika kita memiliki modal ilmiah dan teknologi maka Indonesia kita bisa produksi obat obatan sendiri, produksi vaksin dan alat-alat kesehatan sendiri,” tuturnya.

Pembelajaran ketiga, kata Gus Muhaimin, negara perlu terus menerus memperkuat kapasitas fiskal. Karena keberlanjutan sebuah negara bangsa ditentukan oleh kapasitas fiskal. ”Semua negara maju memiliki kapasitas kuat di atas 20 persen PDB. Negara OECD memiliki pendapatan pajak rata-rata 32 persen PDB,” katanya.

Indonesia yang memiliki rentang wilayah laut dan daratan sangat luas dengan penduduk besar, namun belum dibarengi dengan dengan kapasitas fiskal yang memadai. ”Jangan sampai Indonesia menjadi raksasa baik hati, tetapi berkaki pincang. Nation building tidak mungkin dijalankan tanpa kapasitas fiskal memadai. SDM unggul di seluruh NKRI tidak mungkin dapat didanai tanpa kapasitas fiskal memadai,” urainya.

Karena itu, menurut Gus Muhaimin, negara harus hadir dan aktif untuk menciptakan investasi dan pemeliharaan infrastruktur di semua bidang. Hal itu harus disertai kemampuan fiskal memadai untuk menciptakan kemakmuran bersama.

”Masalahnya, selama 20 tahun terakhir, kapasitas fiskal Indonesia terlau lemah dan dibiarkan lemah. Selama 20 tahun terakhir, perolehan pajak terus menerus di bawah 15 persen PDB. Terlalu kecil bagi negara sebesar Indonesia dan terlalu kecil untuk menjadi negara maju. Seharusnya, sesuai potensinya perolehan pajak Indonesia harus naik hingga 20 persen PDB,” katanya.

Gus Muhaimin bersyukur dengan adanya UU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) Tahun 2021, bangsa ini telah bergerak maju. Kendati begitu, masih terus diperlukan perbaikan sistem pajak agar kapasitas fiskal sesuai dengan profil menuju negara maju.