Hilangkan Pendiri NU, Pesantren Tebuireng Desak Kemendikbud Tarik Naskah Kamus Sejarah Indonesia

M. Isa | Selasa, 20/04/2021 23:57 WIB
Hilangkan Pendiri NU, Pesantren Tebuireng Desak Kemendikbud Tarik Naskah Kamus Sejarah Indonesia Pesantren Tebuireng Jombang (foto: istimewa)

RADARBANGSA.COM – Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur angkat bicara terkait beredarnya softcopy Kamus Sejarah Indonesia Jilid I (Nation Formation) dan Jilid II (Nation Building) yang diterbitkan oleh Direktorat Sejarah pada Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Menurut Humas Pesantren Tebuireng, Nur Hidayat, Naskah Kamus Sejarah Indonesia tersebut tidak layak untuk dijadikan rujukan bagi praktisi Pendidikan dan pelajar Indonesia.

“Naskah tersebut sama sekali tidak layak dijadikan rujukan bagi praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia, karena banyak berisi materi dan framing sejarah yang secara terstruktur dan sistematis telah menghilangkan peran Nahdlatul Ulama dan para tokoh utama Nahdlatul Ulama, terutama peran Hadlratus Syaikh KH Mohammad Hasyim Asy`ari,” kata Nur Hidayat dalam keterangan persnya, Selasa 20 April 2021.

Menurutnya, di antara framing sejarah yang secara terstruktur dan sistematis telah menghilangkan peran Nahdlatul Ulama dan para tokoh utama Nahdlatul Ulama sebagaimana dimaksud dalam butir 1 (satu) di atas adalah tidak adanya lema Nahdlatul Ulama dan KH. Hasyim Asy`ari dalam Jilid I dan Jilid II Kamus Sejarah Indonesia tersebut.

“Jika dicermati lebih dalam, narasi yang dibangun dalam kedua jilid Kamus Sejarah Indonesia tersebut tidak sesuai dengan kenyataan sejarah, karena cenderung mengunggulkan organisasi tertentu dan mendiskreditkan organisasi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa naskah tersebut tidak layak menjadi rujukan para praktisi pendidikan dan pelajar Indonesia. Di luar itu, banyak kelemahan substansial dan redaksional yang harus dikoreksi dari konten Kamus Sejarah Indonesia tersebut,” tegasnya.

Nur Hidayat menegaskan bahwa sejarah sebuah bangsa sangat penting untuk membangun peradaban di masa yang akan datang. Tidak ada satu bangsa yang menjadi besar tanpa memahami dan mempelajari sejarah leluhurnya.

“Karena itu, penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa,” tegasnya lagi.

Dengan beredarnya softcopy naskah tersebut, kata Nur Hidayat, Pesantren Tebuireng menuntut dan mendesak Kemendikbud untuk menarik dari peredaran serta meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia.

“Pesantren Tebuireng Jombang menuntut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menarik kembali naskah tersebut dan meminta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas kecerobohan dan kelalaian dalam penulisan kamus sejarah tersebut,” tutupnya.