Anggaran Riset Minim, Ratna Juwita Pertanyakan Keseriusan Pemerintah

M. Isa | Rabu, 27/11/2019 08:19 WIB
Anggaran Riset Minim, Ratna Juwita Pertanyakan Keseriusan Pemerintah Anggota Komisi VII Ratna Juwita Sari (foto: radarbangsa)

JAKARTA, RADARBANGSA.COM - Komisi VII DPR RI menggelar Rapat Kerja (raker) dengan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro dan Kepala Lembaga Pemerintah Non-Kementerian di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa 26 November 2019.

Raker ini ternyata sangat ditunggu-tunggu oleh legislator milenial Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Dapil Jatim IX, Ratna Juwita Sari. Karena dirinya mencita-citakan bahwa Indonesia lebih maju ke depannya.

“Kesempatan ini sudah lama saya nantikan, bukan hanya sebagai mitra (Komisi di DPR RI), tetapi juga sebagai wakil dari anak bangsa yang sangat ingin Indonesia lebih maju,” kata Ratna Juwita Sari kepada radarbangsa.com.

Dalam raker tersebut, Ratna Juwita mempertanyakan keseriusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pengembangan riset dan teknologi melalui Kementerian Riset dan Teknologi RI.

“Ternyata Kementrian Ristek hanya mendapatkan Anggaran Rp710 M, dan Rp19 T yang disebarkan di 45 Litbang Kementrian dan Lembaga. Bukan Rp35 T seperti yang di ekspose di media,” katanya.

Padahal, kata Ratna, Rp35 triliun saja, hanya berposisi 0,3 % dari PDB Indonesia di 2019. Standardnya dana untuk pengembangan riset dan teknologi paling tidak 1,5% dari PDB kalau memang terlalu jauh untuk mengejar negara maju seperti Korea Selatan yang spend dana pengembangan risteknya mencapai 4,6%.

“Kalau memang diperlukan kiranya perlu bekerja sama dengan pihak-pihak swasta terkait perkembangan “high technology” contoh seperti industri otomotif dan hal itu sukses dilakukan di negara-negara maju seperti USA, Jepang, Korsel dan lainnya,” jelas Ratna.

Selain itu, Ratna juga menanyakan standar yang digunakan Kemenristek untuk menentukan skala prioritas dalam menyetujui permohonan penelitian, “Apakah dipertimbangkan klausul kearifan lokal “local wisdom” sebab menurut pendapat saya, hal inilah yang akan membuat hasil penelitian akan berdampak langsung pada masyarakat setempat dan sustainable keberadaannya.

“Sebagai contoh, saya menceritakan buah Siwalan yang ada di Tuban. Siwalan itu rasanya sangat enak, kandungan gizinya tinggi namun punya kelemahan sangat sulit dikupas dan tidak tahan lama saat sudah dikupas. Harapannya, ke depan akan ada hasil Ristek yang membuat buah lokal ini dapat dikemas dengan baik syukur-syukur bisa menjadi komoditi yang di ekspor,” ungkapnya.

“Tentunya hal ini akan meningkatkan ekonomi masyarakat juga. Riset dan teknologi adalah upaya untuk mempercepat lahirnya inovasi yg akan menghebat kan Indonesia,” tukasnya.