Apakah Batal Jika Menelan Air Liur yang Bercampur Darah Gusi saat Puasa?

Neli Elislah | Rabu, 14/04/2021 16:41 WIB
Apakah Batal Jika Menelan Air Liur yang Bercampur Darah Gusi saat Puasa? sumber: nu.or.id

 RADARBANGSA.COM - Menurut ulama mazhab Syafi`i menegaskan bahwa menelan air lur bukanlah sesuatu yang dapat membatalkan puasa. Namun, bagaimana jika air liur tersebut telah bercampur dengan sesuatu yang lain? misalnya seperti air ingus yang suci dan darah gusi yang najis. Hal tersebut seperti yang dijelaskan dalam kitab Asna al-Mathalib:

لو (ابتلع ريقه الصرف لم يفطر ولو بعد جمعه ويفطر به إن تنجس) كمن دميت لثته أو أكل شيئا نجسا ولم يغسل فمه حتى أصبح وإن ابيض ريقه وكذا لو اختلط بطاهر آخر – كمن فتل خيطا مصبوغا تغير به ريقه

“Jika seseorang menelan air liurnya yang masih murni maka hal tersebut tidak membatalkan puasanya, meskipun air liurnya ia kumpulkan (menjadi banyak). Dan menelan air liur dapat membatalkan puasa ketika air liurnya terkena najis, seperti seseorang yang gusinya berdarah, atau ia mengonsumsi sesuatu yang najis dan mulutnya tidak ia basuh sampai masuk waktu subuh. Bahkan meskipun air liur (yang terkena najis) warnanya masih bening. Begitu juga (puasa menjadi batal ketika menelan) air liur yang bercampur dengan perkara suci yang lain, seperti orang yang membasahi dengan air liur pada benang jahit yang ditenun, lalu air liurnya berubah warna” (Syekh Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 5, Hal. 305)

Namun, hukum batalnya puasa tersebut tidak berlaku secara umum. Seperti jika seseorang terkena cobaan darah gusinya mengalir secara terus menerus atau darah gusi ini pengalir sepanjang waktu melaksankaan ibadah puasa. Maka menjadi wajib baginya mengeluarkan darah semampunya, jika ternyata masih terdapat bekas darah yang sulit untuk dihindari lalu tertelan bersamaan, dengan demikian air liurnya tidak akan sampai membatalkan puasa. Hal ini juga dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

ـ (قوله كمن دميت لثته) قال الأذرعي لا يبعد أن يقال من عمت بلواه بدم لثته بحيث يجري دائما أو غالبا أنه يتسامح بما يشق الاحتراز عنه ويكفي بصقه الدم ويعفى عن أثره ولا سبيل إلى تكليفه غسله جميع نهاره إذا الفرض أنه يجري دائما أو يترشح وربما إذا غسله زاد جريانه .

“Imam al-Adzra’i berkata: “tidak jauh untuk diucapkan bahwa seseorang yang sering dikenai cobaan berupa gusi berdarah yang terus mengalir atau pada umumnya waktu (puasa) maka ditoleransi (ma’fu) kadar (darah gusi) yang sulit untuk dihindari, cukup baginya untuk membuang darah tersebut dan di hukumi ma’fu bekas darah yang tersisa. (sebab) tidak ada jalan untuk menuntutnya agar membasuh darah ini pada seluruh waktu siang, sebab kenyataannya darah ini terus-menerus mengalir atau meresap, dan terkadang ketika dibasuh justru darah gusi semakin bertambah mengalir” (Syekh Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 5, hal. 305).

ـ (أو) ابتلعه (متنجسا) بدم أو غيره وإن صفا (أفطر) ؛ لأنه بانفصاله واختلاطه وتنجسه صار كعين أجنبية ويظهر العفو عمن ابتلع بدم لثته بحيث لا يمكنه الاحتراز عنه

“Atau seseorang menelan air liur yang terkena najis dengan sebab terkena darah atau cairan lain, meskipun berwarna bening, maka hal demikian dapat membatalkan puasa, sebab dengan terpisahnya air liur, bercampurnya air liur dan terkena najisnya air liur, maka air liur tersebut seperti benda lain. dan sangat jelas sekali bahwa dihukumi ma’fu (tidak batal) bagi orang yang menelan air liur yang bercampur dengan darah gusinya. Sekiranya tidak mungkin baginya untuk menghindari (munculnya) darah” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj, juz 13, hal. 332).

Berbeda juga ketika tidak merasakan tertelannya darah gusi yang bercampur dengan air liur yang masuk pada tenggorokan, seperti jika hanya sebatas ragu-ragu apakah air liur yang tertelan bercampur dengan darah gusi atau tidak, maka dalam keadaan ini puasanya tetap dihukumi sah, seperti yang ditegaskan dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyaah al-Kuwaitiyyah:

ومذهب الشافعية والحنابلة : الإفطار بابتلاع الريق المختلط بالدم ، لتغير الريق ، والدم نجس لا يجوز ابتلاعه وإذا لم يتحقق أنه بلع شيئا نجسا لا يفطر ، إذ لا فطر ببلع ريقه الذي لم تخالطه النجاسة

“Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpandangan bahwa menelan air liur yang bercampur dengan darah dapat membatalkan puasa, hal ini disebabkan berubahnya air liur, sedangkan darah adalah benda najis yang tidak boleh untuk ditelan. Jika tidak benar-benar nyata bahwa dirinya telah menelan sesuatu yang najis, maka tidak dihukumi batal puasanya, sebab menelan air liur yang tidak tercampur najis adalah hal yang tidak membatalkan puasa” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan, Mausu’ah al-Fiqhiyaah al-Kuwaitiyyah, juz 28, hal. 64)

Menelan air liur yang bercampur darah adalah hal yang dapat membatalkan puasa, kecuali bagi orang yang sedang sakit seperti keluarnya darah pada gusi secara terus menerus. Namun sebaiknya jika orang yang telah mengetahui gusinya berdarah, maka segera mungkin agar membersihkan dengan cara berkumur agar menghindari tertelannya darah gusi tersebut.