Ancaman Resesi Pukul Harga Minyak dibawah US$100 Per Barel

Anata Lu’luul Jannah | Rabu, 06/07/2022 10:01 WIB
Ancaman Resesi Pukul Harga Minyak dibawah US$100 Per Barel Kilang Minyak (Foto: Wajibbaca)

RADARBANGSA.COM - Harga minyak dunia turun hingga 9% pada Selasa pagi. Penurunan itu menjadi yang terbesar dalam 6 bulan terakhir.

Melansir Reuters, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, menetap di posisi USD102,77 per barel, kehilangan $10,73, atau 9,5%.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), merosot 8,2%, atau USD8,93, menjadi USD99,50 per barel. Tidak ada setelmen WTI pada sesi Senin karena hari libur di Amerika.

Direktur Mizuho Robert Yawger, mengatakan penurunan minyak terjadi lantaran meningkatnya kekhawatiran resesi global dan kebijakan Lockdown di China yang kemudian memangkas permintaan.

"Kami sedang dalam tekanan hebat dan satu-satunya cara yang dapat menjelaskannya adalah ketakutan akan resesi," kata Robert Yawger, Direktur Mizuho.

Shanghai sebelumnya mengumumkan akan memulai putaran baru pengujian massal terhadap 25 juta penduduknya selama periode tiga hari, ini sebagai upaya untuk melacak infeksi yang terkait dengan wabah di sebuah bar karaoke.

“Kami melihat beberapa likuidasi panik. Sangat gugup,” kata Senior Vice President BOK Financial Dennis Kissler.

Kekhawatiran bahwa permintaan driving season musim panas Amerika akan turun setelah liburan Empat Juli juga tampaknya membebani pasar, tutur Kissler.

Harga gas alam AS anjlok 4,7%, minyak pemanas tersungkur sekitar 8% dan bensin untuk pengiriman di Pelabuhan New York melorot 10,5%.

Jika resesi benar-benar melanda, dan mengurangi permintaan energi secara signifikan, lebih banyak ayunan liar ke sisi bawah bisa terjadi, kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

"Pasar komoditas itu bisa sangat tak kenal ampun ketika kita mengalami resesi dan pasokan melebihi permintaan," ujar Lipow.

TAG : Minyak , Brent , WTI