Maskapai Internasional Khawatir Dampak Varian Baru Omicron

Anata Lu’luul Jannah | Rabu, 01/12/2021 09:01 WIB
Maskapai Internasional Khawatir Dampak Varian Baru Omicron Emirate Airlines (Doc: Istimewa)

RADARBANGSA.COM – Industri penerbangan global mulai menyuarakan kekhawatirannya terhadap dampak dari varian omicron. Hal ini diungkapkan oleh beberapa maskapai global Emirates, Easy Jet dan Skandivania SAS.

CEO Emirates Airlines, Tim Clarke menyuarakan kekahwatirannya terhadap kemungkinan pembatasan perjalanan imbas munculnya varian tersebut, hal ini nantinya secara tidak langsung akan memupuskan harapan pemulihan industri penerbangan.

Dia menyoroti bahwa pukulan besar akan terjadi pada puncak musim perjalanan akhir tahun di Bulan Desember. Lanjut, ia memperkirakan hal itu akan  menyebabkan "trauma signifikan" dalam bisnis penerbangan global sepanjan dekade.

“Namun pada saat itu, Desember merupakan bulan yang sangat penting bagi bisnis perjalanan udara,” tambahnya. "Jika itu hilang, atau musim dingin hilang untuk banyak operator, akan ada trauma yang signifikan dalam bisnis, tentu saja bisnis penerbangan dan pinggiran,” tutur Clark, dikutip Reuters, Rabu 1 Desember 2021.

Di saat yang sama, maskapai penerbangan murah Inggris easyJet juga berbicara tentang lemahnya permintaan dalam beberapa pekan terakhir. Munculnya varian baru di beberapa benua Eropa mendorong pelanggan untuk memikirkan kembali rencana liburan kota. 

Dampak pembatasan perjalanan terbukti dalam hasil keuangan yang diterbitkan pada hari Selasa oleh operator easyJet dan Skandinavia SAS.

Chief Executive EasyJet, Johan Lundgren melaporkan kerugian utama sebelum pajak sebesar 1,14 miliar pound ($ 1,5 miliar) untuk tahun ini hingga akhir September, di akhir perkiraan yang lebih tinggi, sementara SAS tetap berada di zona merah pada kuartal Agustus hingga Oktober.

EasyJet mengatakan sulit untuk mengukur efek dari varian baru tetapi kekhawatiran yang lebih luas tentang virus corona masih mempengaruhi para turis.

"Kami melihat ada dampak, terutama pada keberangkatan jangka pendek, tetapi tidak pada tingkat penurunan yang terjadi saat awal pembatasan diberlakukan," pungkas Lundgren.

 


Berita Terkait :