Fakta Tanaman Bawang Bombay yang Tumbuh Subur di Majalengka

Anata Lu’luul Jannah | Selasa, 13/10/2020 13:57 WIB
Fakta Tanaman Bawang Bombay yang Tumbuh Subur di Majalengka Budidaya Bawang Bombay (Doc: Mesin Pertanian)

JAKARTA, RADARBANGSA.COM - Kabar gembira bagi insan pertanian Indonesia datang dari petani Kulonprogo dan Majalengka. Di kedua daerah tersebut, tanaman bawang bombai yang selama ini diklaim hanya cocok ditanam di daerah subtropis, ternyata bisa tumbuh subur bahkan menghasilkan panenan yang bagus.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan meski masih sebatas ujicoba di lahan terbatas, hasil panen bawang bombai tersebut setidaknya memberikan secercah harapan untuk pengembangan di dalam negeri.

“Ini surprised, ternyata bawang bombai bisa dikembangkan di Indonesia. Hasil panen petani di Kulonprogo dan Majalengka jika dikonversi mampu mencapai 40 ton lebih per hektar. Kita akan terus dorong dan sempurnakan pedoman budidaya dan pascapanennya supaya lebih komprehensif,” ungkapnya di Majalengka, Selasa 13 Oktober 2020.

Diketahui, Bawang bombay dapat tumbuh dengan baik pada tempat-tempat yang udaranya sejuk. Suhu udara yang baik ialah 18 – 20 °C. Di indonesia, suhu yang yang demikian terdapat di daerah-daerah yang ketinggiannya antara 800 – 1000 meter di atas permukaan laut.

Pada masa pandemi ini, bawang bombai terbilang sebagai salah satu komoditas yang memiliki harga jual tinggi. Hal ini karena Bawang Bombay sebagaian besar diimpor dari India. Sementara pandemi semakin mempersulit pasokan di India. Sedangkan untuk bijinya, Indonesia mengandalkan impor dari Belanda. Faktor – faktor yang telah disebutkan sebelumnya ini membuat pasokan Bawang Bombay dalam negeri sedikit menurun.

Anto, lantas memprediksi jika kebutuhan bawang bombai di dalam negeri akan cenderung meningkat setiap tahunnya. Terlebih karena bawang bombai kini tak hanya banyak digunakan oleh industri, hotel, restoran dan katering, namun juga banyak dikonsumsi rumahtangga.

“Nilai impornya mencapai lebih dari Rp 1 triliun per tahun atau setara volume lebih dari 120 ribu ton per tahun. Impor terbanyak dari Belanda, New Zealand, India, China dan USA. Jika bawang bombai bisa dikembangkan di dalam negeri setidaknya bisa menghemat devisa dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat,” tandas Anton .

Diakuinya tidak mudah mengembangkan produk baru seperti bawang bombai mulai dari aspek budidaya hingga pemasarannya. Sebagai langkah awal pengembangan, pihaknya akan mendorong produsen benih untuk mengurus proses pendaftaran varietas karena benih biji bawang bombai tersebut masih diimpor dari Belanda.

“Tahun 2021 nanti kita coba kembangkan bawang bombai seluas 20 hektar di beberapa daerah yang memiliki kesesuaian agroklimat dan tersedia air yang cukup. Pemerintah Daerah kita ajak untuk sama-sama membantu petani mulai budidaya hingga promosi pemasarannya di daerah masing-masing,” imbuh Anton.


Berita Terkait :